Tata Busana

Pic Tata Busana

Penggeseran arti ”busana” menjadi ”padanan pakaian”. Meskipun demikian pengertian busana dan pakaian merupakan dua hal yang berbeda. Busana merupakan segala sesuatu yang kita pakai mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Busana ini mencakup busana pokok, pelengkap (milineris dan aksesories) dan tata riasnya. Sedangkan pakaian merupakan bagian dari busana yang tergolong pada busana pokok. Jadi pakaian merupakan busana pokok yang digunakan untuk menutupi bagian-bagian tubuh.

Busana yang dipakai dapat mencerminkan kepribadian dan status sosial sipemakai. Selain itu busana yang dipakai juga dapat menyampaikan pesan atau image kepada orang yang melihat. Untuk itu dalam berbusana banyak hal yang perlu diperhatikan dan pertimbangkan sehingga diperoleh busana yang serasi, indah dan menarik.

Ilmu tata busana adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara memilih, mengatur dan memperbaiki, dalam hal ini adalah busana sehingga diperoleh busana yang lebih serasi dan indah. Diharapkan pengetahuan ini dapat membantu kita atau semua pihak yang terlibat pada bidang busana untuk lebih memahami ilmu busana secara umum.

IGBS Darul Marhamah mempunyai kegiatan ekskul di bidang tata busana.

Volley

SEJARAH BOLA VOLI

volleyball

Permainan bola voli yang kita kenal sekarang ini ada dua sistem yakni sistem internasional dan sistem timur jauh. Perbedaan kedua sistem ini terletak pada jumlah pemain dan ukuran lapangan yang digunakan. Permainan bola voli yang kita kenal sekarang ini terutama oleh anak-anak sekolah dan masyarakat adalah sistem internasional. Sistem internasional dibentuk pada tahun 1895 di Holyoke, Amerika bagian Timur dan sebagai pelopornya William Morgan dari YMCA.

Semula permianan bola voli ini diberi nama ”Mintonette”. Permainan bola voli mirip dengan permainan badminton kemudian namanya volleyball yang artinya memvoli bola bergantian melalui net. Bangsa Indonesia mengenal permainan bola voli pertama kali dari orang-orang Belanda pada waktu zaman penjajahan. Perkembangan bola voli di Indonesia berkembang dengan cepat, sehingga pada tanggal 22 Januari 1955 terbentuklah Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) di Jakarta atas prakarsa Wim. Latumeten. Sedangkan Federasi bola voli seluruh dunia atau International Volley Ball Federation (IVBF) didirikan pada tahun 1948 di kota Paris Perancis.

IGBS Darul Marhamah mempunyai kegiatan ekskul di bidang Volley.

Tata Boga

Pic Tata Boga

Gastronomi atau tata boga adalah seni, atau ilmu akan makanan yang baik (good eating). Penjelasan yang lebih singkat menyebutkan gastronomi sebagai segala sesutu yang berhubungan dengan kenikmatan dari makan dan minuman. Sumber lain menyebutkan gastronomi sebagai studi mengenai hubungan antara budaya dan makanan, di mana gastronomi mempelajari berbagai komponen budaya dengan makanan sebagai pusatnya (seni kuliner). Hubungan budaya dan gastronomi terbentuk karena gastronomi adalah produk budidaya pada kegiatan pertanian sehingga pengejawantahan warna, aroma, dan rasa dari suatu makanan dapat ditelusuri asal-usulnya dari lingkungan tempat bahan bakunya dihasilkan.

Dua ratus tahun yang lalu, kata gastronomi pertama kali muncul di zaman modern tepatnya di Perancis pada puisi yang dikarang oleh Jacques Berchoux (1804). Kendati popularitas kata tersebut semakin meningkat sejak saat itu, gastronomi masih sulit untuk didefinisikan. Kata gastronomi berasal dari Bahasa Yunani kuno gastros yang artinya "lambung" atau "perut" dan nomos yang artinya "hukum" atau "aturan". Gastronomi meliputi studi dan apresiasi dari semua makanan dan minuman. Selain itu, gastronomi juga mencakup pengetahuan mendetail mengenai makanan dan minuman nasional dari berbagai negara besar di seluruh dunia. Peran gastronomi adalah sebagai landasan untuk memahami bagaimana makanan dan minuman digunakan dalam situasi-situasi tertentu. Melalui gastronomi dimungkinkan untuk membangun sebuah gambaran dari persamaan atau perbedaan pendekatan atau perilaku terhadap makanan dan minuman yang digunakan di berbagai negara dan budaya.

Jurnalistik

Jurnalistik

Berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM).

“Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”.

Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).

Dalam sejarah Islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004), cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan.

Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.

IGBS Darul Marhamah mempunyai kegiatan ekskul di bidang Jurnalistik.

Science Club

Sain

Sains, sebagai pondasi dan mesin teknologi, telah dan masih menjadi senjata rahasia Barat yang canggih. Mengingat ia merupakan usaha keras yang abstrak dan tak nampak, adalah mudah untuk melupakan dan menyepelekan betapa pentingannya sains. ltulah mengapa bangsa-bangsa Islam atau Timur salah kaprah mengidentifikasi peradaban Barat dengan piranti-piranti teknologis seperti kendaraan, alat-alat us­trik, televisi, radio, telepon, pesawat, sen­jata nuklir, dan sebagainya, dan mencoba untuk mengimitasinya yang pada akhirnya merugikan mereka sendiri. Kita harus sa­dar bahwa sains itu bukan teknologi. Sains berhubungan dengan ide-ide dalam cara-­cara yang abstrak sementara teknologi bertujuan memproduksi benda-benda yang dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup. Dengan kata lain, teknologi meru­pakan aplikasi pengetahuan ilmiah, dan tanpa pemahaman dan penguasaan lan­dasan ilmiah, hanya memproduksi piran­ti-piranti teknologis melalui imitasi adalah sangat berisiko. Kalau bangsa-bangsa Mus­lim atau Timur tidak mengambil alih kepemimpinan ilmiah dan Barat, supre­masi Barat dalam teknologi berbasis sains akan terus berlanjut.

Umat Islam Pionir Sains Modern

Asal-usul sains modern, atau Revolu­si Ilmiah, berasal dan peradaban Islam. Memang sebuah fakta, umat Islam adalah pionir sains modern. Jikalau mereka tidak berperang di antara sesama mereka, dan jika tentara Kristen tidak mengusirnya dan Spanyol, dan jika orang-orang Mongol tidak menyerang dan merusak bagian-bagi­an dan negeri-negeri Islam pada abad ke­13, mereka akan mampu menciptakan se­orang Descartes, seorang Gassendi, seor­ang Hume, seorang Copernicus, dan se­orang Tycho Brahe, karena kita telah me­nemukan bibit-bibit filsafat mekanika, em­pirisisme, elemen-elernen utama dalam heliosentrisme, dan instrumen-instrumen Tycho Brahe, dalam karya-karya Al-Ghazãli, lbn Al-Shãtir, para astronom pada observatorium Maragha, dan karya-karya Takiyuddin. (Ditulis Oleh Cemil Akdogan)

IGBS Darul Marhamah mempunyai kegiatan ekskul di bidang Science Club.

More Articles...