Mandiri Di Pondok Pesantren (Pemahaman Untuk Orangtua)

pesantren
 
Keadaan di pondok tidaklah seindah keadaan di rumah yang serba terpenuhi dan tercukupi segala keinginannya. Memondokkan anak berarti mendidik anak menjadi mandiri.
Anak harus terbiasa mengurus dirinya sendiri. Mulai dari makan, minum, mandi, membereskan lemari, pakaian, tempat tidur, memilih pakaian, memakai baju.
Anak harus terbiasa memenuhi kebutuhannya sendiri. Mulai dari membuat susu, teh, mie, beli jajan.
Anak harus terbiasa merawat barang – barangnya sendiri. Mulai dari pakaian, alat – alat sekolahnya, alat – alat makannya, alat – alat mandinya.
Anak harus terbiasa menjaga kebersihannya sendiri, baik kebersihan pakaian, badan, tempat tidur, dan lemari.
 
Keputusan memondokkan anak
     
      Keputusan untuk memondokkan anak adalah keputusan yang berat yang harus diambil oleh orang tua, apalagi anaknya masih kecil. Mungkin beribu perasaan berkecamuk di dalam hati orang tua terlebih lagi sang ibu, belum lagi pihak keluarga yang ikut memberatkan dengan komentar – komentarnya, jauhnya jarak dan lamanya waktu berpisah semakin menambah berat keputusan diambil, ditambah lagi biaya yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit.
      Pondok adalah perjuangan. Tempat bertemunya orang – orang yang berkorban untuk agamanya, orang tua berkorban perasaan, waktu, dana, para santri berkorban tenaga dan pikirannya untuk belajar, para asatidzah berkorban waktu, tenaga dan pikirannya untuk mendidik para santri, para muhsinin dan donatur berkorban dengan hartanya, sungguh suatu perjuangan yang Alloh pertemukan dalam satu wadah yang bernama pondok.
       Sesungguhnya perjuangan ini memerlukan ketetapan hati para pelakunya.
       Orang tua ketika mulai terbetik di dalam hatinya hendak memondokkan anaknya, tentu telah melihat maslahat dan mafsadahnya, melihat kepada anak yang akan dipondokkannya.
      Ketika sudah menjadi keputusan maka bertawakalah kepada Alloh. Berpisahnya dengan anak hanya sementara, masih bisa bertemu dengan mereka di saat – saat liburnya, masih bisa berkomunikasi dengan anak melalui telpon atau HP, masih bisa berkirim surat dan masih bisa mengirim paket untuk mereka.
      Jauh dengan anak akan semakin kita merindukannya, berpisah dengan anak menjadikan kita lebih menghargai karunia Alloh kepada kita, jauh dari mereka semakin menjadikan kita disebut – sebut  mereka dalam do’a kita, tidak melihat mereka menjadikan kita semakin ingin mendo’akannya.
    Titipkan kepada Alloh agar Alloh yang Maha Pemberi Rizki memberikan mereka kelapangan rizki, titipkan kepada Alloh agar Alloh menjaga mereka karena Alloh yang Maha Memelihara, mintalah selalu  hidayah agar Alloh memberikan mereka taufiq dan hidayah untuk mengikuti kebenaran.
 
Bagaimana agar anak siap di pondok
  • Kenalkan dunia pondok kepada anak sejak dini.
  • Cari informasi sebanyak – banyaknya tentang pondok yang akan anda tuju.
  • Tanamkan pada anak bahwa dia akan bersekolah di pondok.
  • Tempatkan nama pondok, gambar dan lain – lain yang berkaitan dengan pondok yang akan dituju, sehingga bisa dilihat dan diingat oleh anak.
  • Beri pengertian kepada anak kenapa dia harus dipondokkan.
  • Ajarkan kemandirian sejak dini sehingga benar – benar anak mampu untuk mengurusi dirinya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain.
  • Jangan hanya memberitahukan yang enak – enak saja tentang kehidupan di pondok, beritahukan juga pahit getirnya perjuangan menuntut ilmu, sehingga kita telah menyiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan kehidupan mandirinya di pondok.
  • Siapkan mental anak untuk bisa menghadapi kesulitan – kesulitan yang kemungkinan akan dia hadapi di pondok.
  • Latih hidup sederhana mulai dari sekarang, dari makanannya, pakaian dan tempat tinggal serta fasilitas penunjang yang lainnya.
Bagaimana ketika harus meninggalkan anak di pondok
  • Penuhi kebutuhan – kebutuhan yang mungkin dia butuhkan di pondok misal : sabun mandi, odol, sikat gigi, handuk, pakaian yang terdiri : pakaian sholat 3 stel, pakaian bermain/kaos 3 stel, pakaian dalam/celana dalam, sendok, piring, wadah untuk menaruh makanan/susu, jaket (disarankan tidak terlalu tebal /sulit mencucinya dan sulit keringnya) pakaian untuk sholat Jum’at, sandal, dll. Keperluan yang kira – kira dibutuhkan oleh pribadi anak, gayung untuk wadah peralatan mandinya.
  • Tinggalkan no HP anda kepengasuh dan nomor yang sekiranya bisa dihubungi, catat juga nomor tersebut di pintu lemari santri dengan keterangan yang jelas.
  • Jangan lupa catat nomor telpon ustadz pengasuh yang ada di asrama anak ada dan nomor telpon ustadzah kamar sebelahnya.
  • Tuliskan pesan – pesan yang anda ingin sampaikan ke anak anda pada selembar kertas dan tempelkan di pintu sebelah dalam di lemarinya (upayakan kata – kata yang di sampaikan adalah kalimat – kalimat penyemangat anak anda, mungkin kata mutiara atau kutipan hadits, yang jelas, singkat, padat, mengena dan jangan berupa angan – angan anda yang tinggi sehingga akan sangat sulit diraih dan dilaksanakan oleh anak anda).
  • Kenalkan anak anda kepada ustadzah pengasuh, beritahukan bagaimana sifat dan karakternya, bagaimana kebiasaan dia kalau sedang marah, sedang sakit, sedang tidak enak hatinya dan berikan sedikit cara bagaimana biasanya anda menangani anak anda, hal ini akan menjadi modal awal bagi ustadzah untuk mendidik anak anda.
  • Beri kepercayaan penuh kepada ustadzah pengasuh anak anda. Terangkan apakah anda biasa dengan keras atau tidak, apakah anak anda cukup dengan omongan atau harus dengan keras.
  • Kenalkan anak anda dengan teman–teman satu kamarnya.
 
Disaat perpisahan
  • Kuatkan hati anda jangan biarkan anak melihat kesedihan tampak di wajah anda, yang mana hal itu akan semakin membawanya kepada kesedihan yang lainnya.
  • Katakan kepadanya bahwa anda pasti akan datang lagi ke pondok.
  • Banyak – banyaklah berdo’a untuk ketetapan anak anda, karena saat – saat terberat bagi seorang anak adalah ketika berpisah dengan orang tuanya untuk yang pertama kalinya.
  • Terkadang seorang anak harus ditinggal paksa, tidak mengapa asalkan anda tidak perlu ragu, kalau anda maju mundur/ragu-ragu meninggalkannya akan semakin susah untuk anak anda melepaskan kepergian anda. Berlalulah saja sambil senantiasa mendo’akannya dalam perjalanan pulang anda. Bukankah do’a orang yang musafir/dalam perjalanan do’anya mustajab?
  • Kalau anak anda rewel ketika berpisah, telponlah wali asramanya sehari atau tiga hari setelahnya tanyakan keadaannya, masih sedihkah, murungkah, mau makankah?
  • Pastikan anda berdua/bapak dan ibu dalam keadaan tenang dan tidak mengkhawatirkan keadaannya. Ketenangan orang tua terutama ibu, mungkin bisa berpengaruh kepada ketenangan anak di pondok, berapa banyak anak yang tidak betah dipondok karena orang tuanya tidak seratus persen melepasnya, berapa banyak anak yang harus ditarik dari pondok karena orang tuanya terlalu cinta dan tidak bisa berpisah jauh darinya.
 
Beberapa alasan santri tidak betah di pondok
 
Berdasar pada pengalaman para pengasuh berikut beberapa alasan atau faktor yang sering membuat ananda tidak betah (kerasan) tinggal dipondok:
  • Latar belakang si anak yang terlalu dimanja pra masuk pesantren, serta keinginan – keinginan yang tak terwujud sebagaimana di rumah. Dari sinilah si anak akan membandingkan dua suasana pesantren dan rumahnya yang biasanya berujung si anak akan mengadukan kepada orang tua hal – hal yang menurut dia pantas dijadikan alasan untuk pindah sekolah sekalipun hal tersebut tidak pernah terjadi pada dirinya.
  • Selanjutnya ketidakmampuan si anak untuk membiasakan diri dengan suasana atau hidup disiplin ala pesantren baik dari sisi pembelajaran, aktivitas keseharian maupun ibadah. 
  • Anak susah beradaptasi dengan lingkungan pesantren baik di kelas ataupun di asrama terutama bagi santri pindahan yang biasanya di kucilkan teman – temannya dari santri lama, terlebih apabila si anak berwatak nakal hal ini berakibat :

          - Anak tersebut akan mencari teman yang senasib dengannya yang sama – sama dikucilkan oleh teman – temannya yang biasanya adalah anak yang bermasalah.

          - Terhambatnya aktivitas belajar si anak karena gangguan teman – temannya terutama yang memiliki sifat cengeng berlebih yang berakibat kawan – kawannya semakin tergoda untuk menggodanya atau takut berlebih sehingga tidak berani mengadukannya ke pengasuh.

  • Kenakalan anak yang berlebih, sehingga banyak ustadz atau pengasuh yang galak padanya ataupun kawan – kawan yang kurang bersahabat dengannya.
  • Kakak beradik yang tidak akur, biasanya ketidak betahan akan timbul pada si adik.
  • Sarana bermain yang terasa kurang, membuat santri pada umumnya mudah merasa jenuh. Kegiatan yang padat memerlukan pengaturan waktu aktifitas yang sesuai. Bila tidak, dunia bermain mereka akan terasa terjajah oleh orang tua ataupun para pengasuh di pesantren.
      Padahal disaat belajar fullday akhir – akhir ini penuh kritikan karena dikatakan berakibat kurang berkembangnya otak kanan si anak yang mengatur pergaulannya dengan orang – orang sekitar, lebih lanjut belajar siang hingga sore bahkan hingga malam kurang bagus bagi pertumbuhan mental si anak, ini bagi sebagian kalangan, entah bagi yang lain karena di satu sisi kita dituntut untuk mengembangkan kemampuan anak semaksimal mungkin. Walaupun pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri anak – anak Ibtidaiyyah kita manakala melanjutkan ke jenjang Mutawasithoh mental mereka tidak sejantan sebagaimana tatkala tinggal di Ibtidaiyyah. Karenanya hal – hal yang berhubungan dengan bermain yang sudah menjadi kebutuhan pokok si anakpun perlu dipenuhi dengan pengaturan waktu serta  pengawasan yang cukup tentunya.
 
Si anak betah karena?
 
      Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi orang tua ataupun pengasuh secara umum, manakala si anak beraktifitas dengan ceria di pesantren dalam arti anak tersebut betah tinggal di pesantren karena program – program dari pesantren dapat ia lalui dengan baik. Akan tetapi menjadi sebuah permasalahan yang ternyata sering luput dari pengamatan kita, terjadi pada sebagian kecil dari mereka justru merasa begitu bebas dari kehidupan sebelumnya di rumah atau di sekolah sebelum ia masuk pesantren. Bagai burung yang di lepas dari sangkarnya, pesantren merupakan langit yang luas nan tinggi. Ia akan terbang dan berbuat sesuai yang ia inginkan. Alhasil kenakalannya akan menjadi semakin berkembang.
     Tak perlu menyalahkan pendidikan orang tua pra masuk pesantren yang terlalu mengekang atau pengawasan sang pengasuh di pesantren yang kurang maksimal. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengatasi hal tersebut setelah semuanya terjadi? Disinilah kita mulai sadar arti sebuah keseimbangan belajar dan bermain bagi anak – anak. Telah terpenuhikah kebutuhan bermain mereka? Apakah belajar mereka telah mencapai target yang diinginkan?
     Bila sudah, anak anda akan merasa betah di pesantren karena kebutuhannya akan bermain telah terpenuhi dengan catatan ia tidak melalaikan prestasinya karena setiap aktifitas belajarnya mencapai target yang diinginkan.
 
Bila anak anda menghadapi masalah (sakit, berantem, diejek teman, sandal hilang, prestasi belajar menurun) dipondok
  • Tanggapi laporan dari anak anda dengan baik, berikan motivasi padanya untuk bisa menghadapi masalah yang ada.
  • Jangan terburu nafsu, tanggapi laporan dengan jernih. Anak – anak biasanya melaporkan dari sisinya saja, terkadang untuk mencari perhatian orang tua, agar dikasihani orang tua, agar hatinya orang tua luluh dan mau menariknya dari pondok.
  • Hubungi wali asrama dan konfirmasikan bagaimana keadaan anak anda.
  • Minta keterangan tentang perihal anak anda, bila kurang jelas, mintalah wali asrama untuk menghubungkan anda dengan  ustadz yang berkaitan langsung dengan masalah anak anda.
  • Kebanyakan masalah tidak selesai atau berkepanjangan karena orang tua apriori terlebih dahulu dengan para asatidzah anaknya. Orang tua yang menelan mentah – mentah laporan anaknya, tanpa mencek ulang, biasanya hanya malu yang didapatnya karena keadaannya berbeda dengan yang dilaporkan anaknya tersebut.
  • Kalau setelah di cek ulang ternyata laporan anak anda benar tentang masalah itu, maka bermusyawarahlah dengan asatidzah terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan niatan mencari jalan keluar dari masalah yang ada tanpa harus memojokkan pihak manapun. Insya Alloh ini adalah salah satu bentuk ta’awun/ tolong menolong di dalam kebaikan.
  • Jangan pernah terbayang dalam benak anda, anak anda tidak pernah mendapatkan masalah. Apa lagi kalau anak anda punya tabiat yang agak berbeda dengan teman temannya. Misal :
                           - Anak anda tidak bisa diam.
                           - Anak anda susah diatur.
                           - Anak anda suka berkelahi.
                           - Anak anda tidak mau mengalah.
                           - Anak anda mau menang sendiri.
                           - Anak anda suka pamer.
                           - Anak anda pelit.
                           - Anak anda pembangkang/suka membantah.
                           - Anak anda biasa hidup enak dan berkecukupan.
                           - Anak anda biasa terpenuhi segala keinginannya.
                           - Anak anda biasa termanjakan dengan pembantu yang biasa seenaknya disuruh.
 
Permisalan diatas hanya sedikit dari awal suatu masalah. Oleh karena itu, bekali anak anda agar siap menghadapi masalah – masalah yang ada, mandirikan dia, biasakan dia dengan kesederhanaan, ajarkan dia untuk berbagi, ajarkan dia untuk menurut dengan ustadznya.
 
Bila anda ada keluhan
 
Pernahkah anda mendengar seorang pengasuh “ngambek” karena komplain seorang wali santri? Mengapa? Dan apakah akibatnya?
     Annisa seorang anak yang manja dengan latar belakang keluarga yang cukup mapan. Satu Minggu setelah masuk pesantren ayah Annisa menelpon wali asramanya dan meminta tolong kepada wali asrama untuk membelanjakan beberapa keperluan anaknya. Tiga Minggu kemudian sang ayah kembali menelpon sedikit terkejut karena Annisa mengadukan ketidak betahannya, setelah ditanya alasannya si anak menceritakan karena teman – temannya sering usil, alat mandi dan alat makan sudah hilang, pakaian bersihnya habis. Sang ayahpun berkunjung ke pesantren.
     Sedikit emosi melihat keadaan sang anak, sang ayah berapi–api mengungkapkan kekesalannya kepada wali kamarnya, ia merasa anaknya tidak diperhatikan sebagaimana santri yang lainnya.
     Setelah sang ayah kembali pulang apakah hal tersebut berpengaruh pada hubungan wali santri dengan Annisa? Jawabannya adalah “ya”, bukan perhatian yang bertambah tetapi sebaliknya sang wali asrama sama sekali tidak memperhatikannya, hingga ayah Annisa menelpon hendak berkunjung ia penuhi kebutuhan Annisa seolah – olah hal itu terjadi selama ia di pesantren.
      Dalam keadaan seperti ini mungkin yang di pikirkan sang ayah adalah begitu banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan, inikah hasilnya? Timbul pula keraguan untuk melanjutkan pendidikan anaknya di pesantren.
      Yang dipikirkan oleh wali asrama adalah orang tua wali tak memahami keadaannya di pesantren, dari mengajar atau menghafal hafalan terlebih bagi yang sudah berkeluarga harus membagi waktunya dengan mereka.
      Butuh waktu, kita tak hidup di dunia sulap yang dengan satu dua bulan dapat merubah kata malas menjadi rajin, kata terlambat menjadi tepat waktu, dan lain sebagainya. Semua butuh waktu untuk diterapi, dipelajari serta pemaksimalan usaha dan doa.
     Dan satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kepercayaan penuh kepada pondok, karena pada prinsipnya mendidik lebih terasa berat dibandingkan dengan mengajar karena mendidik tidak bersifat teoritis semata, lebih dari itu sang pendidik dituntut mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani serta kasih sayang dan lainnya bagi anak didik. Sudah barang tentu membutuhkan waktu serta kerja keras yang lebih ekstra.
     Dapat dibayangkan sungguh amanat yang berat apabila di sebuah kamar yang terdiri dari beberapa anak dengan watak yang berbagai macam pula, ditangani oleh satu dua orang pengasuh saja yang juga mengajar dikelas atau mengampu hafalan Al-Qur’an dituntut untuk melayani serta memenuhi setiap kebutuhan mereka.
     Mempercayakan seorang anak kepada sebuah lembaga pendidikan ternyata tak semudah menitipkan sepeda motor atau mobil pada tukang parkir. Karena yang dititipkan adalah makhluk Alloh yang memiliki kemampuan luar biasa, mampu mengembangkan emosional serta individual skillnya hingga mampu merubah sebuah peradaban manusia di masa yang akan datang.
 
Terlalu berlebihankah? Tidak, ingatkah kita pada seorang ibu dengan harta yang ditinggalkan oleh suaminya menitipkan anaknya kepada sekelompok orang di sebuah kabilah di sudut kota Makkah untuk belajar tentang huruf, kata dan kalimat dalam bahasa Arab. Ia hanya seorang anak kecil tetapi dengan kemampuannya yang luar biasa sekian tahun kemudian ia mampu membangun sebuah madzhab Fiqih yang dianut oleh separuh penduduk Islam di bumi, anak itu adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
 
Maka dari sinilah peran orang tua dalam kerjasamanya membangun proyek si anak sangat dibutuhkan. Baik dari segi kebijaksanaan, komunikasi yang aktif, ataupun hal – hal lainnya yang berhubungan dengan si pengasuh dan anak.
 
Ringkasnya. Bila anda ada keluhan atau komplain perihal anak anda maka lakukanlah langkah – langkah berikut ini:
  1. Bila anak anda mengabarkan kepada anda sesuatu hal atau perkara yang tidak mengenakkan segera konfirmasikan kepada rois program. Bila laporan anda salah alamat ( tidak disampaikan ke rois program ) maka masalah yang anak anda hadapi tidak cepat selesai bahkan mungkin akan melebar merembet kemana - mana.
  2. Jelaskan duduk permasalahannya bila ditinjau dari laporan anak. Ingat orang tua harus tetap berkepala dingin, jauhkan emosi dan buruk sangka.
  3. Beri kesempatan kepada rois program tentang masalah yang sesungguhnya terjadi dan menimpa anak anda, bila rois program tidak memahami secara mendetail, rois program akan  mencarikan informasi selengkapnya kepada para koordinator dan kemudian akan menjelaskannya kepada anda.
  4. Musyawarahkan apa langkah yang terbaik yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah anak anda. Bila kedatangan anda ke pondok akan membawa maslahat yang lebih besar maka lebih bagus anda bermusyawarah langsung dengan para asatidzah yang mengurusi langsung masalah anak anda.
  5. Buatlah kesepakatan langkah – langkah apa yang akan diambil asatidzah dan langkah apa yang akan diambil orang tua dengan pusat kepentingannya adalah semuanya untuk kebaikan anak anda.
Insya Alloh bila orang tua melakukan langkah – langkah ini maslahatnya akan dirasakan oleh semua pihak santri, orang tua dan para asatidzah.
 
MOHON DI PERHATIKAN

Perhatikan

Simpanlah nomor – nomor yang bisa dihubungi dari:

  • Bendahara pesantren
  • Rois Program (kepsek)
  • Wali Asrama 1 dan 2
  • Wali kelas
  • Kerabat yang tinggal dekat pondok

Bila Menelpon:

  • Beritahukan lewat sms bila anda ingin menelpon.
  • Teleponlah ananda 1-2x dalam satu bulan.
  • Teleponlah diluar jam pelajaran, halaqoh atau sholat.
  • Berbicaralah seperlunya kepada ananda, dengarlah dengan seksama keluhan dan kebutuhannya serta berilah sedikit nasehat dan support untuk lebih rajin belajar lalu konsultasikan ke wali asrama.
Masalah jajan
  • Titiplah uang jajan kepada wali asrama sesuai dengan kebutuhannya.
  • Alat belajar, mandi dan makan diusahakan sudah lengkap diawal tahun.
  • Agar tidak merepotkan wali asrama jajan tambahan di kirimkan via paket dan terlebih dahulu menanyakan ananda makanan atau kebutuhan yang diminta.
Bila mengirimi paket
  • Pisahkan makanan dengan yang non makanan seperti shampoo, sabun dll.
  • Buatlah bungkusan dengan plastik yang tiap plastik berisi beberapa snack.
  • 1 bungkus untuk satu hari.
  • Pada tiap bungkus sisipkanlah beberapa pesan anda. Contoh:
          “ Annisa harus rajin belajar ya “
          “ Annisa harus jadi anak yang pemberani tidak boleh cengeng ”
  • Mintalah wali asrama memberitahukan bila paket sudah tiba.
Hubungan dengan wali asrama
·   Keterbukaan dan kerjasama wali asrama sangat dibutuhkan.
·   Tidak mengkritik dengan kritik yang pedas berusahalah memahami keadaan serta jangan lupa.
·   Berilah saran atau usulan untuk kemaslahatan bersama.
 
Bila anda berkunjung.
  • Beritahukan wali asrama (sms / call) bila anda ingin mengunjungi ananda.
  • Harap memaklumi suasana kamar yang gaduh oleh anak – anak.
  • Temuilah dan konsultasikan kesehariannya kepada wali asrama, pelajaran kelasnya ke wali kelas, hafalannya kepada pengampu hafalan.
  • Ajaklah ananda keluar jalan – jalan keluar pesantren dan ajaklah dia bercerita tentang kegiatan dia di pesantren.
  • Berpamitan ketika hendak pulang dan pastikan ananda tahu kalau anda pulang kembali kerumah.
Bila ananda sakit
  • Bersikap tenang dan berpikiran positif.
  • Tanyakan keadaan terakhir ananda.
  • Dari bagian kesehatan akan menanyakan persetujuan anda untuk membawa ananda ke dokter atau RS apabila merasa diperlukan.
Bila anak anda bermasalah
  • Bersikaplah dengan tenang dan berpikiran positif.
  • Awalilah dengan mengunjungi anak anda di pesantren.
  • Pelajarilah keadaan yang terjadi sehingga tidak saling menyalahkan.
  • Berbicaralah 4 mata dengan orang – orang yang terkait dengan masalah anak anda.
  • Berusaha mencari solusi dengan musyawarah.
  • Teleponlah lagi satu Minggu kemudian untuk mengetahui keadaan ananda. 
Pakaian
  • Berwarna gelap.
  • Agar awet dan mudah dicuci usahakan baju atau celana tidak terlalu tebal (seperti levis) tetapi tidak mudah sobek, terlebih bila ananda hiper aktif.
  • Berilah nama pada bagian dalam pakaian dengan spidol atau bordir, dll.
 
Kami menghimbau kepada para wali santri untuk bisa bekerja sama dengan kami  para pelaksana di Madrasah, sampaikan langsung kepada kami kritik, saran, masukan dan pengaduan perihal santri, kasus, program dan semua kegiatan yang ada di Madrasah. Insya Alloh semua masukan dari antum akan kami tanggapi dan tentu semua itu akan bermanfaat bagi kami.