Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak di Era Digital

Anak adalah Peniru Ulung. Sikap mereka di sekolah, di lingkungan dan masyarakat adalah cerminan bagaimana kehidupan mereka di rumah, yang tentu tidak terlepas dari didikan orang tuanya. Rumah merupakan madrasah (sekolah) pertama bagi tumbuh kembang anak dan orang tua adalah guru utama bagi tahun-tahun pertama kehidupan mereka. Disebabkan karena usia dini adalah usia meniru, maka orang tua adalah ‘model’ bagi anaknya. Oleh karena itu, keluarga menjadi ujung tombak dalam perkembangan sosio-emosinya.

Setiap orang tua, memiiki gaya dan cara mendidik yang berbeda-beda. Dan tentunya gaya-gaya tersebut akan berpengaruh dalam perkembangan anak. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan kasih sayang kepada mereka adalah tidak berlebihan dan tidak pula kurang. Berikan pelayanan dan kasih sayang secara proporsional. Ada masanya kapan seorang orang tua harus bersikap tegas dan kapan bersikap lemah lembut kepada anak. Apapun masalahnya, usahakan semampunya untuk tidak memarahi anak melampaui batas kewajaran seperti mengumpat, menghardik dengan celaan terkutuk, apalagi sampai berlaku kasar, dan memukul anak hingga meninggalkan luka lebam di tubuhnya.

Marah bukanlah satu-satunya solusi dalam mendidik anak ketika bersalah. Selain menimbulkan efek negatif bagi perkembangan sosio-emosional dan mental anak, marah juga merupakan sifat yang sangat dilarang oleh teladan ummat akhir zaman, Rasululullah s.a.w dalam sebuah hadits, beliau bersabda, “Laa taghdlob walakal jannah”  yang artinya “Jangan marah, bagimu Surga” (H.R. Ath Thabrani). Pendidikan keluarga yang baik adalah: pendidikan yang memberikan dorongan kuat kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikan agama. Oleh karena itu ada beberapa aspek pendidikan yang sangat penting untuk diberikan dan diperhatikan orang tua, diantaranya:

Pendidikan Akidah

Pendidikan islam dalam keluarga harus memperhatikan pendidikan akidah islamiyah, dimana akidah itu merupakan inti dari dasar keimanan seseorang yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Sejalan dengan firman Allah yang artinya:

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran padanya: ‘Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Alloh benar-benar merupakan kedlaliman yang besar’,” (Q.S. Luqman:13).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa akidah harus ditanamkan kepada anak yang merupakan dasar pedoman hidup seorang muslim.

Pendidikan Ibadah

Aspek pendidikan ibadah ini khususnya pendidikan shalat disebutkan dalam firman Allah yang artinya:

‘’Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia untuk mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya hal yang demikian itu termasuk diwajibkan oleh Alloh,’’  (QS. Luqman:17).

Pendidikan dan pengajaran Al Qur’an serta pokok-pokok ajaran islam yang lain telah disebutkan dalam Hadis yang artinya: ’’Sebaik-baik dari kamu sekalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan kemudian mengajarkannya,’’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Penanaman pendidikan ini harus disertai contoh konkret yang masuk pemikiran anak, sehingga penghayatan mereka didasari dengan kesadaran rasional. Dengan demikian anak sedini mungkin sudah harus diajarkan mengenai baca dan tulis kelak menjadi generasi Qur’ani yang tangguh dalam menghadapi zaman.

Pendidikan Akhlakul Karimah

Orang tua mempunyai kewajiban untuk menanamkan akhlakul karimah pada anak-anaknya, dan pendidikan akhlakul karimah sangat penting untuk diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya dalam keluarga, sebagai firman Alloh yang artinya.

“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu dan sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara himar,”( QS.Luqman:19 )

Dari ayat ini telah menunjukkan dan menjelaskan bahwa tekanan pendidikan keluarga dalam islam adalah pendidikan akhlak, dengan jalan melatih anak membiasakan hal-hal yang baik, menghormati orang tua, bertingkah laku sopan baik dalam berperilaku keseharian maupun dalam bertutur kata.

Aqidah  yang lurus, Ibadah yang benar dan pekerti yang luhur, adalah komponen dasar membangun generasi penuh berkah, generasi madaniy yang kelak dewasanya akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, teguh dalam kebenaran dan tak gentar dalam menentang kebathilan. Umar bin Khatab, seorang bijak yang hidup di abad ke 7 masehi, memberikan pernyataan yang sangat terkenal: “Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu.”  Suatu pernyataan yang seolah sangat sederhana, tetapi memiliki aplikasi yang cukup rumit di dalam pelaksanaannya. Jangankan kita membandingkan dengan kondisi sekitar 14 abad yang lampau, dengan 40-50 tahun yang lampau saja dengan kondisi di Indonesia saat ini, tantangan di dalam membesarkan dan mendidik anak-anak sangatlah berbeda.

Ali Bin Abi Thalib r.a khalifah ke 4 setelah zaman kenabian, memberikan nasehat dalam pendidikan anak berdasarkan tahap usia perkembangannya :

Anak di usia 7 tahun pertama.

Tujuh tahun pertama merupakan fase golden age (usia emas) setiap anak. Dimana pada usia ini, satu-satunya otak yang baru berkembang sempurna adalah “otak reptil” yang juga dimiliki oleh hewan. Karakterisktik dari otak reptile ini adalah kemampuan pertahanan diri anak dari rangsangan. Hasil sebuah penelitian mengatakan bahwa sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi pada usia 4 tahun, 80% telah terjadi pada usia 8 tahun, dan mencapai titik tertinggi pada usia 18 tahun (Direktorat PAUD, 2004).

Pada usia emas ini adalah usia dimana anak hiperaktif dengan tingkat emosional yang sangat tinggi dan tidak terkendali. Kemampuan meniru dan menyerap setiap yang disaksikan anak terjadi pada usia ini. Maka dari itu, hindari pertengkaran orang tua di hadapan anak usia emas ini dan hal-hal negatif lainnya seperti; berbohong, mencela, mengumpat, berbuat kekerasan, berkata-kata kotor, dsb. Karena akan berdampak buruk pada pertumbuhan emosional anak, yaitu tumbuh dengan penuh kecurigaan.

Anak di usia 7 tahun kedua.

Khalifah Ali bin Abi Thalib mengingatkan, anak pada usia ini hendaklah di didik layaknya tawanan perang; penjagaan penuh, dengan segala ketegasan dan komitmen yang tinggi dalam menerapkan segala peraturan. Rasululllah s.a.w juga menganjurkan kepada kita dalam sabdanya, untuk memerintahkan anak untuk mengerjakan shalat yang apabila pada usia 10 tahun masih meninggalkan shalat, hendaklah dipukul (dengan pukulan yang mendidik) agar menimbukan efek jera pada mereka.

Pada usia ini, anak mulai dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Dianjurkan kepada orang tua untuk membiasakan anak dengan kegiatan-kegiatan kemandirian, memberi hukuman jika bersalah dan memberi reward jika melakukan hal-hal yang prestatif. Hindari mendidik anak dengan menjanjikan reward apabila mau melakukan hal-hal yang kita perintahkan. Sebab, hal demikian hanya akan mendidik anak menjadi pribadi yang pamrih, hanya akan mau melakukan suatu perbuatan jika ada imbalan.

Hal yang perlu ditonjolkan pada usia 7 tahun kedua ini adalah penyadaran penuh kepada anak bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Memberi Balasan yang berlipat-lipat atas setiap baik-buruknya perbuatan kita.

Anak di usia 7 tahun ketiga.

Menjadikan anak layaknya sahabat, merupakan salah satu nasehat Ali bin Abi Thalib terhadap anak diusia 7 tahun ketiga ini. Sebab diusia 15-21 tahun ini adalah usia dimana anak masih dalam masa pencarian jati dirinya, labilitas tingkat tinggi, maka yang paling dan sangat dibutuhkan oleh mereka adalah orang-orang yang dapat memahami perasaan mereka, yang dapat memberikan solusi setiap permasalahan yang sedang mereka alami.

Pada usia remaja menuju dewasa ini anak-anak cenderung mencari ‘kenyamanan’ itu pada lawan jenis. Kerap kali, posisi orang tua menjadi tergantikan karena kehadiran ‘orang ketiga’ dalam kehidupan anak-anak. Meski raganya bersama orang tua, tetapi hati dan fikirannya sudah tidak lagi berada dalam kebersamaan didalam keluarga.

Usia remaja adalah usia yang membuat anak-anak terobsesi mengikuti setiap fantasi yang ada didalam fikiran mereka. Terutama bagi remaja diera digital, tontonan acapkali menjadi tuntunan; meniru dan mecomplak setiap tokoh yang diidolakan. Mereka mulai silau dengan fana dan fatamorgana. Kebahagiaan dan kesenangan selalu menjadi keniscayaan. Bahkan tidak sedikit remaja kekinian lupa dengan cita-cita yang dulu mereka gadang-gadangkan dimasa kanak-kanaknya. Terlebih diera digital ini, kejahatan media terhadap anak semakin tak kenal ampun. Fakta membuktikan, semua teori perkembangan seks pada anak, tumbang seiring perkembangan teknologi.

Maka, sudah seharusnya para orang tua menjadi sahabat bagi anak-anaknya diusia 7 tahun ketiga ini. Jangan biarkan masa remaja anak-anak kita rusak diperbudak modernisasi dan budaya kebarat-baratan. Remaja yang rusak adalah kegagalan penanaman aqidah dan akhlakul karimah diusia emas dan masa tawanan perang. Tegas tidak harus keras. Tetapi tegas, harus tegaan. Maksimalkan pendidikan anak di setiap fase perkembangannya, sebelum mereka tumbuh menjadi pribadi yang gagal dan kehilangan masa depannya.

Pakar psikologi anak mengamati, realitas anak dan remaja di era digital ini cenderung mudah bosan, stress berkepanjangan, selalu merasa kesepian meski di keramaian, takut dimarahi dan mudah lelah. Semua jenis layar, membuat otak dan mata anak menjadi fokus. Bukan fokus aktif, melainkan fokus pasif. Sehingga, anak tidak lagi aware dengan lingkungan. Maka dari itu, perlu rasanya digalakkan durasi sehat digital; 15-20 menit bagi anak usia 3-5 tahun, 60 menit bagi anak rentang usia 6-7 tahun, dan 2 jam saja bagi anak usia diatas 7 tahun, tentu tidak dengan memberikan keseluruhan waktu itu untuk mereka menikmati gadget-nya, melainkan diselingi dengan aktfitas produktif mereka.

Beberapa solusi yang saya rasa dapat sedikit membantu permasalahan orang tua dalam mendidik anak diera digital ini terutama pendidikan di dalam keluarga yaitu;

1. Menjalankan fungsi dan tatanan keluarga dengan baik (yaitu kerjasama antara Ayah dan Bunda),

2. Membuat kesepakatan dengan anak, me-manage aktivitas harian mereka mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, tanpa mengekang hak bermainnya termasuk menikmati suguhan gadget mereka. Hal yang terpenting adalah, hindari menggunakan gadget saat bersama anak, karena hal itu akan membuat anak meniru prilaku buruk orang tua tersebut;

3. Ciptakan kebersamaan dengan anak sebaik mungkin (tanpa gangguan gadget), untuk melatih anak agar mereka selalu terbuka pada orang tua dan tidak mencari tempat curhat lain selain orang tuanya;

4. Usahakan 30 menit dalam 24 jam yang kita punya, untuk mengevaluasi aktivitas hariannya, berdialog mendengarkan curahan hati dan perasaan mereka. Meski tidak dapat memberi solusi, setidaknya jadilah orang tua yang bersahabat, yang selalu membuat anak merasa nyaman dan terbuka dengan kita. 

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/03/24/79737/penguatan-peran-keluarga-pendidikan-anak-era-digital/#ixzz4Jdw8tM4S 

 

Mandiri Di Pondok Pesantren (Pemahaman Untuk Orangtua)

pesantren
 
Keadaan di pondok tidaklah seindah keadaan di rumah yang serba terpenuhi dan tercukupi segala keinginannya. Memondokkan anak berarti mendidik anak menjadi mandiri.
Anak harus terbiasa mengurus dirinya sendiri. Mulai dari makan, minum, mandi, membereskan lemari, pakaian, tempat tidur, memilih pakaian, memakai baju.
Anak harus terbiasa memenuhi kebutuhannya sendiri. Mulai dari membuat susu, teh, mie, beli jajan.
Anak harus terbiasa merawat barang – barangnya sendiri. Mulai dari pakaian, alat – alat sekolahnya, alat – alat makannya, alat – alat mandinya.
Anak harus terbiasa menjaga kebersihannya sendiri, baik kebersihan pakaian, badan, tempat tidur, dan lemari.
 
Keputusan memondokkan anak
     
      Keputusan untuk memondokkan anak adalah keputusan yang berat yang harus diambil oleh orang tua, apalagi anaknya masih kecil. Mungkin beribu perasaan berkecamuk di dalam hati orang tua terlebih lagi sang ibu, belum lagi pihak keluarga yang ikut memberatkan dengan komentar – komentarnya, jauhnya jarak dan lamanya waktu berpisah semakin menambah berat keputusan diambil, ditambah lagi biaya yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit.
      Pondok adalah perjuangan. Tempat bertemunya orang – orang yang berkorban untuk agamanya, orang tua berkorban perasaan, waktu, dana, para santri berkorban tenaga dan pikirannya untuk belajar, para asatidzah berkorban waktu, tenaga dan pikirannya untuk mendidik para santri, para muhsinin dan donatur berkorban dengan hartanya, sungguh suatu perjuangan yang Alloh pertemukan dalam satu wadah yang bernama pondok.
       Sesungguhnya perjuangan ini memerlukan ketetapan hati para pelakunya.
       Orang tua ketika mulai terbetik di dalam hatinya hendak memondokkan anaknya, tentu telah melihat maslahat dan mafsadahnya, melihat kepada anak yang akan dipondokkannya.
      Ketika sudah menjadi keputusan maka bertawakalah kepada Alloh. Berpisahnya dengan anak hanya sementara, masih bisa bertemu dengan mereka di saat – saat liburnya, masih bisa berkomunikasi dengan anak melalui telpon atau HP, masih bisa berkirim surat dan masih bisa mengirim paket untuk mereka.
      Jauh dengan anak akan semakin kita merindukannya, berpisah dengan anak menjadikan kita lebih menghargai karunia Alloh kepada kita, jauh dari mereka semakin menjadikan kita disebut – sebut  mereka dalam do’a kita, tidak melihat mereka menjadikan kita semakin ingin mendo’akannya.
    Titipkan kepada Alloh agar Alloh yang Maha Pemberi Rizki memberikan mereka kelapangan rizki, titipkan kepada Alloh agar Alloh menjaga mereka karena Alloh yang Maha Memelihara, mintalah selalu  hidayah agar Alloh memberikan mereka taufiq dan hidayah untuk mengikuti kebenaran.
 
Bagaimana agar anak siap di pondok
  • Kenalkan dunia pondok kepada anak sejak dini.
  • Cari informasi sebanyak – banyaknya tentang pondok yang akan anda tuju.
  • Tanamkan pada anak bahwa dia akan bersekolah di pondok.
  • Tempatkan nama pondok, gambar dan lain – lain yang berkaitan dengan pondok yang akan dituju, sehingga bisa dilihat dan diingat oleh anak.
  • Beri pengertian kepada anak kenapa dia harus dipondokkan.
  • Ajarkan kemandirian sejak dini sehingga benar – benar anak mampu untuk mengurusi dirinya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain.
  • Jangan hanya memberitahukan yang enak – enak saja tentang kehidupan di pondok, beritahukan juga pahit getirnya perjuangan menuntut ilmu, sehingga kita telah menyiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan kehidupan mandirinya di pondok.
  • Siapkan mental anak untuk bisa menghadapi kesulitan – kesulitan yang kemungkinan akan dia hadapi di pondok.
  • Latih hidup sederhana mulai dari sekarang, dari makanannya, pakaian dan tempat tinggal serta fasilitas penunjang yang lainnya.
Bagaimana ketika harus meninggalkan anak di pondok
  • Penuhi kebutuhan – kebutuhan yang mungkin dia butuhkan di pondok misal : sabun mandi, odol, sikat gigi, handuk, pakaian yang terdiri : pakaian sholat 3 stel, pakaian bermain/kaos 3 stel, pakaian dalam/celana dalam, sendok, piring, wadah untuk menaruh makanan/susu, jaket (disarankan tidak terlalu tebal /sulit mencucinya dan sulit keringnya) pakaian untuk sholat Jum’at, sandal, dll. Keperluan yang kira – kira dibutuhkan oleh pribadi anak, gayung untuk wadah peralatan mandinya.
  • Tinggalkan no HP anda kepengasuh dan nomor yang sekiranya bisa dihubungi, catat juga nomor tersebut di pintu lemari santri dengan keterangan yang jelas.
  • Jangan lupa catat nomor telpon ustadz pengasuh yang ada di asrama anak ada dan nomor telpon ustadzah kamar sebelahnya.
  • Tuliskan pesan – pesan yang anda ingin sampaikan ke anak anda pada selembar kertas dan tempelkan di pintu sebelah dalam di lemarinya (upayakan kata – kata yang di sampaikan adalah kalimat – kalimat penyemangat anak anda, mungkin kata mutiara atau kutipan hadits, yang jelas, singkat, padat, mengena dan jangan berupa angan – angan anda yang tinggi sehingga akan sangat sulit diraih dan dilaksanakan oleh anak anda).
  • Kenalkan anak anda kepada ustadzah pengasuh, beritahukan bagaimana sifat dan karakternya, bagaimana kebiasaan dia kalau sedang marah, sedang sakit, sedang tidak enak hatinya dan berikan sedikit cara bagaimana biasanya anda menangani anak anda, hal ini akan menjadi modal awal bagi ustadzah untuk mendidik anak anda.
  • Beri kepercayaan penuh kepada ustadzah pengasuh anak anda. Terangkan apakah anda biasa dengan keras atau tidak, apakah anak anda cukup dengan omongan atau harus dengan keras.
  • Kenalkan anak anda dengan teman–teman satu kamarnya.
 
Disaat perpisahan
  • Kuatkan hati anda jangan biarkan anak melihat kesedihan tampak di wajah anda, yang mana hal itu akan semakin membawanya kepada kesedihan yang lainnya.
  • Katakan kepadanya bahwa anda pasti akan datang lagi ke pondok.
  • Banyak – banyaklah berdo’a untuk ketetapan anak anda, karena saat – saat terberat bagi seorang anak adalah ketika berpisah dengan orang tuanya untuk yang pertama kalinya.
  • Terkadang seorang anak harus ditinggal paksa, tidak mengapa asalkan anda tidak perlu ragu, kalau anda maju mundur/ragu-ragu meninggalkannya akan semakin susah untuk anak anda melepaskan kepergian anda. Berlalulah saja sambil senantiasa mendo’akannya dalam perjalanan pulang anda. Bukankah do’a orang yang musafir/dalam perjalanan do’anya mustajab?
  • Kalau anak anda rewel ketika berpisah, telponlah wali asramanya sehari atau tiga hari setelahnya tanyakan keadaannya, masih sedihkah, murungkah, mau makankah?
  • Pastikan anda berdua/bapak dan ibu dalam keadaan tenang dan tidak mengkhawatirkan keadaannya. Ketenangan orang tua terutama ibu, mungkin bisa berpengaruh kepada ketenangan anak di pondok, berapa banyak anak yang tidak betah dipondok karena orang tuanya tidak seratus persen melepasnya, berapa banyak anak yang harus ditarik dari pondok karena orang tuanya terlalu cinta dan tidak bisa berpisah jauh darinya.
 
Beberapa alasan santri tidak betah di pondok
 
Berdasar pada pengalaman para pengasuh berikut beberapa alasan atau faktor yang sering membuat ananda tidak betah (kerasan) tinggal dipondok:
  • Latar belakang si anak yang terlalu dimanja pra masuk pesantren, serta keinginan – keinginan yang tak terwujud sebagaimana di rumah. Dari sinilah si anak akan membandingkan dua suasana pesantren dan rumahnya yang biasanya berujung si anak akan mengadukan kepada orang tua hal – hal yang menurut dia pantas dijadikan alasan untuk pindah sekolah sekalipun hal tersebut tidak pernah terjadi pada dirinya.
  • Selanjutnya ketidakmampuan si anak untuk membiasakan diri dengan suasana atau hidup disiplin ala pesantren baik dari sisi pembelajaran, aktivitas keseharian maupun ibadah. 
  • Anak susah beradaptasi dengan lingkungan pesantren baik di kelas ataupun di asrama terutama bagi santri pindahan yang biasanya di kucilkan teman – temannya dari santri lama, terlebih apabila si anak berwatak nakal hal ini berakibat :

          - Anak tersebut akan mencari teman yang senasib dengannya yang sama – sama dikucilkan oleh teman – temannya yang biasanya adalah anak yang bermasalah.

          - Terhambatnya aktivitas belajar si anak karena gangguan teman – temannya terutama yang memiliki sifat cengeng berlebih yang berakibat kawan – kawannya semakin tergoda untuk menggodanya atau takut berlebih sehingga tidak berani mengadukannya ke pengasuh.

  • Kenakalan anak yang berlebih, sehingga banyak ustadz atau pengasuh yang galak padanya ataupun kawan – kawan yang kurang bersahabat dengannya.
  • Kakak beradik yang tidak akur, biasanya ketidak betahan akan timbul pada si adik.
  • Sarana bermain yang terasa kurang, membuat santri pada umumnya mudah merasa jenuh. Kegiatan yang padat memerlukan pengaturan waktu aktifitas yang sesuai. Bila tidak, dunia bermain mereka akan terasa terjajah oleh orang tua ataupun para pengasuh di pesantren.
      Padahal disaat belajar fullday akhir – akhir ini penuh kritikan karena dikatakan berakibat kurang berkembangnya otak kanan si anak yang mengatur pergaulannya dengan orang – orang sekitar, lebih lanjut belajar siang hingga sore bahkan hingga malam kurang bagus bagi pertumbuhan mental si anak, ini bagi sebagian kalangan, entah bagi yang lain karena di satu sisi kita dituntut untuk mengembangkan kemampuan anak semaksimal mungkin. Walaupun pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri anak – anak Ibtidaiyyah kita manakala melanjutkan ke jenjang Mutawasithoh mental mereka tidak sejantan sebagaimana tatkala tinggal di Ibtidaiyyah. Karenanya hal – hal yang berhubungan dengan bermain yang sudah menjadi kebutuhan pokok si anakpun perlu dipenuhi dengan pengaturan waktu serta  pengawasan yang cukup tentunya.
 
Si anak betah karena?
 
      Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi orang tua ataupun pengasuh secara umum, manakala si anak beraktifitas dengan ceria di pesantren dalam arti anak tersebut betah tinggal di pesantren karena program – program dari pesantren dapat ia lalui dengan baik. Akan tetapi menjadi sebuah permasalahan yang ternyata sering luput dari pengamatan kita, terjadi pada sebagian kecil dari mereka justru merasa begitu bebas dari kehidupan sebelumnya di rumah atau di sekolah sebelum ia masuk pesantren. Bagai burung yang di lepas dari sangkarnya, pesantren merupakan langit yang luas nan tinggi. Ia akan terbang dan berbuat sesuai yang ia inginkan. Alhasil kenakalannya akan menjadi semakin berkembang.
     Tak perlu menyalahkan pendidikan orang tua pra masuk pesantren yang terlalu mengekang atau pengawasan sang pengasuh di pesantren yang kurang maksimal. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengatasi hal tersebut setelah semuanya terjadi? Disinilah kita mulai sadar arti sebuah keseimbangan belajar dan bermain bagi anak – anak. Telah terpenuhikah kebutuhan bermain mereka? Apakah belajar mereka telah mencapai target yang diinginkan?
     Bila sudah, anak anda akan merasa betah di pesantren karena kebutuhannya akan bermain telah terpenuhi dengan catatan ia tidak melalaikan prestasinya karena setiap aktifitas belajarnya mencapai target yang diinginkan.
 
Bila anak anda menghadapi masalah (sakit, berantem, diejek teman, sandal hilang, prestasi belajar menurun) dipondok
  • Tanggapi laporan dari anak anda dengan baik, berikan motivasi padanya untuk bisa menghadapi masalah yang ada.
  • Jangan terburu nafsu, tanggapi laporan dengan jernih. Anak – anak biasanya melaporkan dari sisinya saja, terkadang untuk mencari perhatian orang tua, agar dikasihani orang tua, agar hatinya orang tua luluh dan mau menariknya dari pondok.
  • Hubungi wali asrama dan konfirmasikan bagaimana keadaan anak anda.
  • Minta keterangan tentang perihal anak anda, bila kurang jelas, mintalah wali asrama untuk menghubungkan anda dengan  ustadz yang berkaitan langsung dengan masalah anak anda.
  • Kebanyakan masalah tidak selesai atau berkepanjangan karena orang tua apriori terlebih dahulu dengan para asatidzah anaknya. Orang tua yang menelan mentah – mentah laporan anaknya, tanpa mencek ulang, biasanya hanya malu yang didapatnya karena keadaannya berbeda dengan yang dilaporkan anaknya tersebut.
  • Kalau setelah di cek ulang ternyata laporan anak anda benar tentang masalah itu, maka bermusyawarahlah dengan asatidzah terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan niatan mencari jalan keluar dari masalah yang ada tanpa harus memojokkan pihak manapun. Insya Alloh ini adalah salah satu bentuk ta’awun/ tolong menolong di dalam kebaikan.
  • Jangan pernah terbayang dalam benak anda, anak anda tidak pernah mendapatkan masalah. Apa lagi kalau anak anda punya tabiat yang agak berbeda dengan teman temannya. Misal :
                           - Anak anda tidak bisa diam.
                           - Anak anda susah diatur.
                           - Anak anda suka berkelahi.
                           - Anak anda tidak mau mengalah.
                           - Anak anda mau menang sendiri.
                           - Anak anda suka pamer.
                           - Anak anda pelit.
                           - Anak anda pembangkang/suka membantah.
                           - Anak anda biasa hidup enak dan berkecukupan.
                           - Anak anda biasa terpenuhi segala keinginannya.
                           - Anak anda biasa termanjakan dengan pembantu yang biasa seenaknya disuruh.
 
Permisalan diatas hanya sedikit dari awal suatu masalah. Oleh karena itu, bekali anak anda agar siap menghadapi masalah – masalah yang ada, mandirikan dia, biasakan dia dengan kesederhanaan, ajarkan dia untuk berbagi, ajarkan dia untuk menurut dengan ustadznya.
 
Bila anda ada keluhan
 
Pernahkah anda mendengar seorang pengasuh “ngambek” karena komplain seorang wali santri? Mengapa? Dan apakah akibatnya?
     Annisa seorang anak yang manja dengan latar belakang keluarga yang cukup mapan. Satu Minggu setelah masuk pesantren ayah Annisa menelpon wali asramanya dan meminta tolong kepada wali asrama untuk membelanjakan beberapa keperluan anaknya. Tiga Minggu kemudian sang ayah kembali menelpon sedikit terkejut karena Annisa mengadukan ketidak betahannya, setelah ditanya alasannya si anak menceritakan karena teman – temannya sering usil, alat mandi dan alat makan sudah hilang, pakaian bersihnya habis. Sang ayahpun berkunjung ke pesantren.
     Sedikit emosi melihat keadaan sang anak, sang ayah berapi–api mengungkapkan kekesalannya kepada wali kamarnya, ia merasa anaknya tidak diperhatikan sebagaimana santri yang lainnya.
     Setelah sang ayah kembali pulang apakah hal tersebut berpengaruh pada hubungan wali santri dengan Annisa? Jawabannya adalah “ya”, bukan perhatian yang bertambah tetapi sebaliknya sang wali asrama sama sekali tidak memperhatikannya, hingga ayah Annisa menelpon hendak berkunjung ia penuhi kebutuhan Annisa seolah – olah hal itu terjadi selama ia di pesantren.
      Dalam keadaan seperti ini mungkin yang di pikirkan sang ayah adalah begitu banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan, inikah hasilnya? Timbul pula keraguan untuk melanjutkan pendidikan anaknya di pesantren.
      Yang dipikirkan oleh wali asrama adalah orang tua wali tak memahami keadaannya di pesantren, dari mengajar atau menghafal hafalan terlebih bagi yang sudah berkeluarga harus membagi waktunya dengan mereka.
      Butuh waktu, kita tak hidup di dunia sulap yang dengan satu dua bulan dapat merubah kata malas menjadi rajin, kata terlambat menjadi tepat waktu, dan lain sebagainya. Semua butuh waktu untuk diterapi, dipelajari serta pemaksimalan usaha dan doa.
     Dan satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kepercayaan penuh kepada pondok, karena pada prinsipnya mendidik lebih terasa berat dibandingkan dengan mengajar karena mendidik tidak bersifat teoritis semata, lebih dari itu sang pendidik dituntut mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani serta kasih sayang dan lainnya bagi anak didik. Sudah barang tentu membutuhkan waktu serta kerja keras yang lebih ekstra.
     Dapat dibayangkan sungguh amanat yang berat apabila di sebuah kamar yang terdiri dari beberapa anak dengan watak yang berbagai macam pula, ditangani oleh satu dua orang pengasuh saja yang juga mengajar dikelas atau mengampu hafalan Al-Qur’an dituntut untuk melayani serta memenuhi setiap kebutuhan mereka.
     Mempercayakan seorang anak kepada sebuah lembaga pendidikan ternyata tak semudah menitipkan sepeda motor atau mobil pada tukang parkir. Karena yang dititipkan adalah makhluk Alloh yang memiliki kemampuan luar biasa, mampu mengembangkan emosional serta individual skillnya hingga mampu merubah sebuah peradaban manusia di masa yang akan datang.
 
Terlalu berlebihankah? Tidak, ingatkah kita pada seorang ibu dengan harta yang ditinggalkan oleh suaminya menitipkan anaknya kepada sekelompok orang di sebuah kabilah di sudut kota Makkah untuk belajar tentang huruf, kata dan kalimat dalam bahasa Arab. Ia hanya seorang anak kecil tetapi dengan kemampuannya yang luar biasa sekian tahun kemudian ia mampu membangun sebuah madzhab Fiqih yang dianut oleh separuh penduduk Islam di bumi, anak itu adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
 
Maka dari sinilah peran orang tua dalam kerjasamanya membangun proyek si anak sangat dibutuhkan. Baik dari segi kebijaksanaan, komunikasi yang aktif, ataupun hal – hal lainnya yang berhubungan dengan si pengasuh dan anak.
 
Ringkasnya. Bila anda ada keluhan atau komplain perihal anak anda maka lakukanlah langkah – langkah berikut ini:
  1. Bila anak anda mengabarkan kepada anda sesuatu hal atau perkara yang tidak mengenakkan segera konfirmasikan kepada rois program. Bila laporan anda salah alamat ( tidak disampaikan ke rois program ) maka masalah yang anak anda hadapi tidak cepat selesai bahkan mungkin akan melebar merembet kemana - mana.
  2. Jelaskan duduk permasalahannya bila ditinjau dari laporan anak. Ingat orang tua harus tetap berkepala dingin, jauhkan emosi dan buruk sangka.
  3. Beri kesempatan kepada rois program tentang masalah yang sesungguhnya terjadi dan menimpa anak anda, bila rois program tidak memahami secara mendetail, rois program akan  mencarikan informasi selengkapnya kepada para koordinator dan kemudian akan menjelaskannya kepada anda.
  4. Musyawarahkan apa langkah yang terbaik yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah anak anda. Bila kedatangan anda ke pondok akan membawa maslahat yang lebih besar maka lebih bagus anda bermusyawarah langsung dengan para asatidzah yang mengurusi langsung masalah anak anda.
  5. Buatlah kesepakatan langkah – langkah apa yang akan diambil asatidzah dan langkah apa yang akan diambil orang tua dengan pusat kepentingannya adalah semuanya untuk kebaikan anak anda.
Insya Alloh bila orang tua melakukan langkah – langkah ini maslahatnya akan dirasakan oleh semua pihak santri, orang tua dan para asatidzah.
 
MOHON DI PERHATIKAN

Perhatikan

Simpanlah nomor – nomor yang bisa dihubungi dari:

  • Bendahara pesantren
  • Rois Program (kepsek)
  • Wali Asrama 1 dan 2
  • Wali kelas
  • Kerabat yang tinggal dekat pondok

Bila Menelpon:

  • Beritahukan lewat sms bila anda ingin menelpon.
  • Teleponlah ananda 1-2x dalam satu bulan.
  • Teleponlah diluar jam pelajaran, halaqoh atau sholat.
  • Berbicaralah seperlunya kepada ananda, dengarlah dengan seksama keluhan dan kebutuhannya serta berilah sedikit nasehat dan support untuk lebih rajin belajar lalu konsultasikan ke wali asrama.
Masalah jajan
  • Titiplah uang jajan kepada wali asrama sesuai dengan kebutuhannya.
  • Alat belajar, mandi dan makan diusahakan sudah lengkap diawal tahun.
  • Agar tidak merepotkan wali asrama jajan tambahan di kirimkan via paket dan terlebih dahulu menanyakan ananda makanan atau kebutuhan yang diminta.
Bila mengirimi paket
  • Pisahkan makanan dengan yang non makanan seperti shampoo, sabun dll.
  • Buatlah bungkusan dengan plastik yang tiap plastik berisi beberapa snack.
  • 1 bungkus untuk satu hari.
  • Pada tiap bungkus sisipkanlah beberapa pesan anda. Contoh:
          “ Annisa harus rajin belajar ya “
          “ Annisa harus jadi anak yang pemberani tidak boleh cengeng ”
  • Mintalah wali asrama memberitahukan bila paket sudah tiba.
Hubungan dengan wali asrama
·   Keterbukaan dan kerjasama wali asrama sangat dibutuhkan.
·   Tidak mengkritik dengan kritik yang pedas berusahalah memahami keadaan serta jangan lupa.
·   Berilah saran atau usulan untuk kemaslahatan bersama.
 
Bila anda berkunjung.
  • Beritahukan wali asrama (sms / call) bila anda ingin mengunjungi ananda.
  • Harap memaklumi suasana kamar yang gaduh oleh anak – anak.
  • Temuilah dan konsultasikan kesehariannya kepada wali asrama, pelajaran kelasnya ke wali kelas, hafalannya kepada pengampu hafalan.
  • Ajaklah ananda keluar jalan – jalan keluar pesantren dan ajaklah dia bercerita tentang kegiatan dia di pesantren.
  • Berpamitan ketika hendak pulang dan pastikan ananda tahu kalau anda pulang kembali kerumah.
Bila ananda sakit
  • Bersikap tenang dan berpikiran positif.
  • Tanyakan keadaan terakhir ananda.
  • Dari bagian kesehatan akan menanyakan persetujuan anda untuk membawa ananda ke dokter atau RS apabila merasa diperlukan.
Bila anak anda bermasalah
  • Bersikaplah dengan tenang dan berpikiran positif.
  • Awalilah dengan mengunjungi anak anda di pesantren.
  • Pelajarilah keadaan yang terjadi sehingga tidak saling menyalahkan.
  • Berbicaralah 4 mata dengan orang – orang yang terkait dengan masalah anak anda.
  • Berusaha mencari solusi dengan musyawarah.
  • Teleponlah lagi satu Minggu kemudian untuk mengetahui keadaan ananda. 
Pakaian
  • Berwarna gelap.
  • Agar awet dan mudah dicuci usahakan baju atau celana tidak terlalu tebal (seperti levis) tetapi tidak mudah sobek, terlebih bila ananda hiper aktif.
  • Berilah nama pada bagian dalam pakaian dengan spidol atau bordir, dll.
 
Kami menghimbau kepada para wali santri untuk bisa bekerja sama dengan kami  para pelaksana di Madrasah, sampaikan langsung kepada kami kritik, saran, masukan dan pengaduan perihal santri, kasus, program dan semua kegiatan yang ada di Madrasah. Insya Alloh semua masukan dari antum akan kami tanggapi dan tentu semua itu akan bermanfaat bagi kami.
 

14 Kesalahan dalam Mendidik Anak

 

didik-anak

Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.

Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.

Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:

1. Salah Tujuan
Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.

Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas banyak orang awam. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama dicampakkan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang ikhtilat, banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas, dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinahan merajalela.

2. Salah Sekolahan
Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren, tanpa peduli apakah pesantren itu penuh bid’ah atau tidak, dan apakah akidah dan akhlak para santri benar-benar terkontrol.

Harus diakui, saat ini masih ada sekolah Islam yang di situ bercampur-baur antara pelajar laki-laki dengan perempuan, atau kurang memperhatikan sistem pengajarannya, sehingga bercampur antara pelajaran yang syar’i dan bid’ah, bahkan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang anak. Kelak, ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang menyimpang dari syariat Islam.

3. Salah Teladan
Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.

4. Salah Metode Pendidikan
Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.

5. Motivasi yang Kurang Tepat
Kesalahan orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan merusak watak dan pribadi anak, karena anak terdorong bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu bukan karena Allah, melainkan karena ingin berprestasi dan mendapat hadiah yang menggiurkan. Parahnya lagi, hanya untuk mengejar hadiah yang dijanjikan, si anak bisa saja menghalalkan segala cara, dengan mencontek atau berbuat curang lainnya, yang penting hadiah didapat.

Alhasil, bila dia tidak bisa berprestasi, maka dia akan menjadi orang yang frustasi dan malas belajar, sedangkan pada anak yang didorong agar tidak tersaingi oleh teman-temannya akan timbul sifat angkuh, sombong dan egois. Dan anak yang dimotivasi agar bangga dengan prestasi yang dicapainya, tumbuh menjadi anak yang tidak pandai bersyukur kepada Allah; ia hanya bersemangat menuntut ilmu, tapi kehilangan kendali bila gagal.

6. Membatasi Kreativitas Anak
Ada sebagian orangtua yang membatasi, memaksa dan selalu menentukan kreativitas anak. Ini akan mengekang bakat anak, membuat anak kurang percaya diri, tidak pandai bergaul, dan cenderung memisahkan diri dari teman-temannya. Seharusnya orangtua mengarahkan, membimbing, mendorong dan memberi fasilitas agar anak mengembangkan kreativitasnya sepanjang kreativitas itu tidak melanggar syariat, tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan bermanfaat untuk diri maupun agamanya. Anak yang merasa didukung kreativitasnya akan tumbuh dengan kepala yang penuh ide cemerlang dan menjadi orang yang bertanggung jawab, sekaligus menjadi anak yang bangga dengan orang-tuanya.

7. Membatasi Pergaulan
Kadang, karena tidak ingin anak terpengaruh oleh perilaku buruk teman bergaulnya, orangtua bertindak sangat protektif terhadap anaknya. Bahkan, anak tak boleh “nimbrung” jika orang tuanya sedang menerima tamu. Atau, anak hanya diperbolehkan bergaul dengan teman-teman tertentu yang belum tentu shalih, tapi justru dilarang mendekati temannya yang shalih, paham As-Sunnah dan rajin beribadah.

Sikap orangtua seperti di atas membuat anak menjadi pemalu dan tidak pandai bergaul, atau akan membuat anak mudah merendahkan orang lain yang dianggap tidak selevel dengannya.

Orangtua bijaksana akan mengawasi pergaulan anak-anaknya, tanpa terlalu membatasi tapi juga tidak membiarkan anak bergaul bebas. Orangtua harus selalu mengingatkan dan memantau agar anak bergaul dengan orang-orang shalih, yang paham As-Sunnah, rajin beribadah dan berakhlak mulia serta teman-teman yang bisa memotivasinya menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, agama, orang tua dan orang di sekitarnya.

8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib
Ketidakdisiplinan dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih untuk membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid (bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati perintah orangtua dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.

Setiap orangtua atau pendidik hendaknya membuatkan jadwal rutin harian, yang berkaitan dengan ibadah, tugas harian maupun tugas sekolah, dan orangtua harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya jangan sampai ada yang terlewatkan.

9. Hanya Pendidikan Formal
Sebagian orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar. Padahal, kebanyakan lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa memedulikan kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari pendidikan formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan hidup. Sebab, kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya melalui madrasah saja.

Dengan kata lain, setiap anak harus membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan realitas hidup, perkembangan teknologi, bisnis, informasi, komunikasi, situasi terkini, dunia tumbuhan dan binatang. Dan untuk itu, orangtua haruslah aktif dan selektif dalam memilihkan bacaan, yaitu memilihkan bacaan yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karenanya, pendidikan non formal, terutama pendidikan agama mutlak diperlukan, karena dengan pendidikan inilah si anak akan dapat menyaring, mana ilmu teknologi, bisnis, komunikasi, dan segala hal yang bermanfaat atau justru berpotensi merusak akidah maupun akhlak seseorang.

10. Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab
Orangtua harus menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi pada anak-anaknya akan tugas dan kewajiban mereka, baik yang terkait dengan urusan agama maupun dunia. Masing-masing harus merasa bahwa tugas sekecil apa pun merupakan amanah yang harus diemban dan beban tanggung jawab yang harus dipikul sepenuh kemampuan. Anak harus dilatih untuk lebih dahulu menunaikan kewajiban dari pada menuntut haknya baik hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun kepada sesama manusia terutama kepada orangtua, sanak-kerabat dan teman-temannya.

Orangtua harus mengenalkan kepada anak-anaknya tanggung jawab kepada agama, diri, dan lingkungannya. Bahkan anak harus dikenalkan pada kewajiban zakat, infak dan sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin agar tumbuh rasa tanggung jawab dan sensitivitasnya pada agama dan lingkungan, baik lingkungan rumah maupun sekolah.

11. Khawatir yang Berlebihan
Perasaan takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban biaya hidup anaknya tidak terpenuhi, dan mencintai anak secara berlebihan.

Ketakutan seperti itu hanya akan membuat hidup terbebani, tidak percaya dengan takdir, dan mengurangi ketawakalannya kepada Allah. Yang ada nanti hanya perasaan tidak tenang dan khawatir terhadap nasib anaknya. Inilah yang kadang membuat orangtua tidak tega saat melepas anaknya menempuh pendidikan boarding school (pondok) di pesantren. Padahal, setiap orangtua harus menyadari bahwa suatu saat nanti anak akan berpisah dengannya, baik untuk mencari ilmu atau mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya setelah menikah kelak.

12. Kurang Sabar dalam Menerima Hasil
Bisa jadi orangtua sudah punya target-target tertentu atas pendidikan anaknya, atau boleh jadi orangtua telah mendidik anaknya untuk mengganti jabatannya atau memegang perusahaannya setelah dia meninggal. Namun, ternyata sang anak mengecewakannya. Bukan karena ia nakal dan membangkang, melainkan karena bakat sang anak tidak sejalan dengan keinginan dan harapan orangtuanya. Akhirnya, kita dengar orang tua mencerca anaknya, “Tinggal belajar saja kok tidak bisa. Makanya, belajar yang betul!”

Padahal, kita semua sadar bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kecerdasan dan kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Seharusnya orang tua bersikap bijak. Kewajiban orangtua hanyalah berusaha semaksimal mungkin mengarahkan dan membina anak-anaknya, sedangkan hasilnya, Allah Maha Adil dan Maha Tahu apa yang tetbaik bagi hamba-Nya. Jadi, kenapa orangtua harus kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya? Bukankah lebih baik mengutamakan kesabaran dan keistikomahan dalam mendidik dan mengarahkan anak, daripada terpaku pada hasil akhirnya?

13. Curiga Berlebihan
Orang tua harus bersikap terbuka dan memberi kepercayaan kepada anak. Sikap ini akan memperlancar komunikasi dan interaksi dengan anak maupun anggota keluarga yang lain. Keterbukaan dan kepercayaan juga akan membuat anak mencintai orangtuanya secara tulus dan memandang penuh hormat dan kasih pada keduanya. Sebaliknya, bila orang tua mudah menuduh tanpa bukti, mencurigai setiap gerak-gerik anak tanpa alasan dan menganggap anak berkhianat kepada orangtuanya, perasaan anak akan tercabik-cabik, kekecewaan tumbuh, dan kemarahan anak kepada orangtua akan tersulut. Apalagi bila anak merasa apa yang dituduhkan kepadanya tidak benar.

Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam menilai anak-anaknya. Jangan mudah curiga dan menuduh anak dengan sesuatu tanpa alasan dan bukti hanya karena kurang cinta atau cemburu. Orang tua juga tidak boleh meremehkan kemampuan dan kelebihan anak dengan menganggapnya masih terlalu kecil.

Di pihak lain, sang anak pun tak boleh mudah memvonis orangtuanya tidak sayang dan membencinya. Seharusnya seorang anak bersabar menghadapi sikap orang tua yang kurang berkenan dan sebaiknya mencari informasi yang sebenarnya kenapa orangtuanya bersikap demikian, dan menghilangkan dendam kepada orangtua karena sikapnya tersebut. Sebab, dendam yang dibiarkan bisa memutus hubungan silaturahim. Maka, pupuklah sikap saling percaya, tumbuhkan empati, dan sikap terbuka dalam menghadapi setiap masalah.

14. Menjauhkan Anak dari Orang Shalih
Kalau tidak bergaul dengan ulama atau orang shalih, pasti kita akan bergaul dengan orang-orang bodoh dan ahli maksiat. Kedekatan dengan para ulama dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada kebaikan, amal shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan orang-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular kebaikannya. Dan siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau hidup di lingkungan yang buruk, akan pula terkena getah keburukannya.

Wahai anak shalih yang mendambakan surga, jangan biarkan dirimu bergaul dengan orang buruk berhati serigala, orang munafik, orang fasik dan ahli bid’ah perusak agama. Ingat, orang yang baik akan dikumpulkan bersama orang baik dan orang yang buruk akan berkumpul dengan orang yang buruk. Dan pada Hari Kiamat kelak, seseorang dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.

Dari buku:
Judul: “Untukmu Anak Shalih”
Penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc

sumber : www.assunnah-qatar.com

 

Software Microsoft Mathematics 4.0

ms mathematics4
 
Kali ini admin ingin share sebuah software/aplikasi untuk mengerjakan matematika secara mudah. Khususnya di bidang persamaan, hingga 6 variabel, dan masih banyak lagi. Aplikasi/software penyelesaian matematika ini adalah dirancang untuk memudahkan perhitungan oleh guru maupun pelajar untuk menyelesaikan beberapa masalah matematika ataupun yang berkaitan dengan matematika. Manfaatkan dengan bijak ya, saran admin penggunaan software ini adalah bagi yang telah memahami konsep perhitungan manualnya, dan ingin menyelesaikan masalah matematika dengan cepat (bukan karena tidak paham/tidak bisa mengerjakannya dengan manual).
 
langsung saja simak keterangan softwarenya berikut.
 
Software Product Description
 
Microsoft Mathematics provides a set of mathematical tools that help students get school work done quickly and easily. With Microsoft Mathematics, students can learn to solve equations step-by-step while gaining a better understanding of fundamental concepts in pre-algebra, algebra, trigonometry, physics, chemistry, and calculus.Microsoft Mathematics includes a full-featured graphing calculator that’s designed to work just like a handheld calculator. Additional math tools help you evaluate triangles, convert from one system of units to another, and solve systems of equations.
 
Features:
  • The Step-by-Step Equation Solver
  • Graphing calculator
  • Formulas and Equations Library
  • Triangle Solver
  • Unit Conversion tool
 
 
Untuk menjalankan aplikasi/software Microsoft Mathematics 4.0 di komputer anda sudah harus terinstal: Microsoft .NET Framework 3.5 SP1.

PREDIKSI SOAL UN SMP/MTS 2016

ujian-smp

Kelulusan Ujian Nasional (UN) SMP/MTs dan SMPLB tahun 2015 terbilang meningkat dan bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data hasil UN SMP/sederajat tahun 2015 menunjukkan dari total total 52.163 SMP/Sederajat yang melaksanakan UN tahun 2015, hanya 12 persen yang memiliki nilai UN dan IIUN tinggi. Sebanyak 50 persen dari total tersebut meraih nilai UN tinggi tetapi IIUN rendah. 17 persennya meraih nilai UN rendah tetapi IIUN tinggi. 22 persen sisanya meraih nilai UN rendah dan IIUN rendah.

Mendikbud mengungkapkan secara rerata nilai UN dan IIUN SMP/Sederajat Swasta lebih tinggi daripada SMP/Sederajat Negeri. Hal ini, kata dia, merupakan pekerjaan rumah bagi sekolah-sekolah negeri. “Dari angka ini terlihat, (secara umum) problem justru lebih besar di sekolah negeri dibandingkan di sekolah swasta,” tuturnya.

Team ujiannasional.org dalam rangka membantu para siswa/siswi meluncurkan suatu Prediksi Soal UN SMP Tahun 2016 disamping latihan soal per mata pelajaran yang sudah kami sampaikan.

Berikut Prediksi Soal UN SMP Tahun 2016, yang sudah bisa diunduh :

  1. Prediksi Soal UN SMP/MTs Tahun 2016 | Silakan unduh disini
  2. Pembahasan Prediksi Soal UN SMP/MTs Tahun 2016 | Silakan unduh disini

Semoga Prediksi Soall Ujian Nasional SMP/MTs Tahun pelajaran 2015/2016 yang kami sampaikan dapat membantu para siswa/siswi SMP/MTs sederajat dalam menghadapi ujian nasional tahun 2016 di Tanah Air kita tercinta, Indonesia Raya termasuk Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN) untuk tingkat SMP/MTS tahun pelarajan 2015/2016. Amin Ya Allah Ya Rabbal Alamin!